Lampu Hijau

Enggak pernah menyangka bahwa ada beberapa orang yang kagum dengan tulisan Mei. Tujuan awal menulis cuma ngeluarin apa yang Mei rasa, pikir, dan alami. Cuma itu. Namun, ternyata ada beberapa orang yang menunggu-nunggu tulisan Mei, termasuk suami.

Lewat tulisan Mei, suami jadi penasaran dan jatuh cinta akan sosok Mei. 

"Suka banget sama tulisan-tulisanmu. Kenapa enggak dibukuin aja jadi suatu cerita yang utuh? Pembawaan cerita sama pemilihan bahasa juga ringan,"

akunya saat itu yang merupakan chat pertama kali dengan Mei. Entah itu jurus untuk mendekati Mei atau memang tulus. Hihihi.

"Pernah enggak kalau mamas komentar buruk tentang tulisan nduk?"

"Ya, enggak,"

"Ya itu dia. Dari awal mamas jatuh cinta sama tulisan ayang. Terus kenapa sekarang berhenti? Enggak mau bikin mamas jatuh cinta terus setiap hari?"

Mei mikir....

yang ada dipikiran, "ya kalau gitu baca ulang aja terus sampai bosan,"

tapi yang terucap adalah, "bener ya? nanti kalau nduk makin banyak pengagum jangan cemburu. Walaupun sekarang tetap banyak pengagum dari Hago. Wkwkwk."

"iya, nggak."

Selama menjadi istri pun Mei menaruh peran suami juga sebagai 'filter'. Khawatir apa yang diceritakan dan dibagikan sebenarnya enggak boleh diceritakan dan dibagikan. Oleh karena itu, kalau mau menulis tentang sesuatu, Mei harus menunjukkan tulisan tersebut ke suami. Sampai suami bilang "boleh", baru mei publish.

"Kalau mau upload tulisan, upload aja, enggak apa-apa. Enggak usah izin mamas."

SYIP!!! Dapat lampu hijau!



Komentar

Postingan Populer