Hikam datang di waktu yg tepat

Diskusi, tukar pikiran, sering Mei dan suami lakukan sejak PDKT. Hal tentang anak pun tidak luput dibahas. Sampai pada keputusan bersama bahwa menunda untuk memiliki anak setelah menikah.

"Mau pacaran dulu," 

Itu alasan kami. Ya, kami memang enggak melalui masa pacaran.

Beberapa bulan berlalu, status menjadi 'pengantin baru' tetap melekat pada kami. Teman-teman suami pun banyak yg menyusul suami menikah. Tetapi, mereka lebih dahulu dipercaya untuk mendidik dan membesarkan anak oleh Tuhan. Suami sempat iri.

Kami pun berusaha untuk memiliki momongan. Tes kehamilan menjadi tes yang rutin dilakukan disaat Mei telat datang bulan walaupun hanya satu hari. Hasilnya? Nihil.

Akhirnya, kami menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Diberi anak dalam waktu dekat, Alhamdulillah. Ditunda dalam beberapa waktu, Insya Allah kami sabar. Nothing to lose.

Suami sempat bertanya kepada salah seorang teman yg bisa 'melihat',

"Rumahnya panas. Jadi, ngaruh ke rahim."

Akhirnya, kami memutuskan untuk mengontrak. Lokasinya dekat dengan kantor Mei. Walaupun jarak kantor suami masih jauh, tetapi mempersingkat waktu 30 menit untuk sampai rumah.

***

Suatu hari, suami menghadiri acara seminar dengan pembicara K.H. Yusuf Mansyur sebagai 'bos besar' kantornya. Dalam seminar itu suami 'ditodong' suatu amalan.

"Misbakh, berani nggak sedekahin semua gajinya?" kata YM sambil menepuk pundak suami.

Suami hanya diam, berpikir.

"Wah, dia bingung gimana izinnya ke istri ini," lanjut YM.

Nggak berapa lama, suami wa Mei. Intinya minta pendapat yg berakhir dengan minta izin tentang menyedekahkan semua gaji nya selama sebulan. 

"Iya. Sedekahin aja. Gaji mamas kan yg disedekahin semua? Gaji nduk nggak?"

"Iya."

Mei berpikir kami masih bisa tetap hidup dengan gaji Mei. 

Kami pun menentukan waktu sedekah dan target sedekah. Semua dilakukan sesuai rencana.

Hitungan matematika manusia, di saat kita memiliki dua, kita keluarkan satu, maka hasilnya tinggal satu. Tapi, tidak dengan hitungan matematika Tuhan. Di saat kami memiliki dua penghasilan, kita keluarkan satu, maka hasilnya dua bahkan tiga kali lipat. Ya, rezeki datang silih berganti bahkan hingga seluruh penghasilan Mei bisa ditabung.

Benar kata orang bahwa tidak ada orang yg jatuh miskin karena sedekah.

***

Beberapa bulan kemudian, cobaan dalam rumah tangga kami mulai terasa berat. Bukan karena belum adanya kehadiran seorang anak, tapi karena adanya kehadiran pihak ketiga yg membuat kepercayaan kepada pasangan jauh berkurang.

Mei stres. Suami frustrasi. Sempat suami ingin bercerita dan mengeluh kepada YM karena suami mengikuti tantangan beliau, tapi apa yg didapat? Cobaan seperti ini.

"Ustad, saya lakuin apa yg ustad sarankan. Menyedekahkan semua gaji saya. Tapi kenapa saya mendapat cobaan seperti ini?"

Belum sempat suami bercerita dan mengeluh, suami tersadar akan sesuatu.

"Yg namanya sedekah itu ikhlas. Enggak mengharapkan imbalan. Jika saya berpikir seperti itu, apakah itu yg dinamakan ikhlas? Astaghfirullah."

Pelan-pelan kami mencoba keluar dari cobaan itu. Pelan-pelan kami terima apa yg sudah terjadi. Pelan-pelan kami memaafkan diri sendiri dan pasangan. Pelan-pelan kami bangun lagi kepercayaan kepada masing-masing pasangan. Hasilnya? Alhamdulillah, hubungan kami lebih baik dari sebelumnya. Kepercayaan kami meningkat dari sebelumnya. Komunikasi kami lebih terbuka dari sebelumnya.

Hingga suatu hari, Mei membawakan suami tes kehamilan yg di dalamnya terdapat dua garis merah. Suami menangis melihatnya. Entah menangis karena terharu atau menangis karena ingat biaya persalinan, biaya pendidikan, biaya aqiqah, dan lain-lain. Tanya aja sendiri, ya. Hihihi.

Alhamdulillah.


Komentar

Postingan Populer