Sebuah Prinsip Baru

"Kewajiban itu harus segera dilaksanain. Nggak boleh ditunda-tunda."

Sebuah prinsip yg baru-baru ini Mei pegang karena telah melalui suatu kejadian.

Dari awal menikah, Mei dan suami membulatkan sebuah tekad dan menjalaninya. Menjadi orang tua asuh bagi beberapa anak yatim. Lebih membantu untuk meringankan biaya pendidikan mereka.

Salah satu anak asuh kami, sebut aja Mawar, ingin pindah sekolah. Kami meng-iya-kan karena kami juga menawari sebelumnya, melihat kualitas sekolahnya yg kurang saat itu. Setelah mencari-cari informasi dan memantapkan pilihan, dipilih lah sekolah A sebagai tempat mengeyam pendidikan Mawar yang baru. Mawar senang dan menyukai sekolah A. 

Untuk kasus pindahan murid baru, pasti ada biaya masuk, buku, seragam, dan lain-lain. Saat itu biaya masuk sekitar 750.000. Itu juga sudah mendapatkan diskon karena anak yatim. Biaya buku dan seragam sekitar 500.000. Perkiraan total sekitar 1.300.000.

Pada saat itu, tabungan Mei mencukupi untuk melunasinya. 

"Nanti dulu, deh. Siapa tau ada uang tambahan lagi masuk ke tabungan,"

Itu yang ada di pikiran Mei selama berhari-hari. Padahal, selama beberapa hari itu juga nggak ada tambahan uang masuk ke tabungan. Hingga akhirnya, Mei mendapatkan pesan berupa kwitansi pembayaran masuk sekolah A. 

Beberapa hari setelahnya, Mei dan suami menemui Mawar dan ibunya. Betapa hancurnya hati Mei, saat mengetahui suatu kenyataan.

"Teh, saya gadaiin hp dulu buat biaya masuk sekolah Mawar. Soalnya, nggak enak kalau minjem-minjem ke tetangga. Dapet nggak, digosipin terus iya,"

Kemudian bercerita tentang cemilan yg dimakan. Saking anak-anaknya mau ngemil, tapi Ibu Mawar nggak pegang uang sama sekali, dibuatkan tepung goreng. Yg nantinya dimakan dengan saos.

Deg! Rasanya mau nangis saat itu juga. Ngeliat keteledoran Mei sendiri. Ini ada anak-anak dan ibu yg Mei kenal, nggak bisa ngemil yg dimau karena uangnya terpakai untuk biaya tambahan masuk sekolah baru. Mei kuatkan diri, menahan air mata biar nggak keluar di depan mereka.

Saat pamit pulang ke mereka, Mawar mengatakan sesuatu.

"Terima kasih ya, kak. Semoga masuk surga."

Mata seketika menjadi tambah berat karena menahan air mata yg ingin keluar.

Malamnya, saat di rumah, nangis kejer sambil didekap suami.

"Nggak apa-apa. Pelajaran buat kita, ya."

Komentar

Postingan Populer