Kisah Nyata: Pengalaman Suami dengan Dunia Lain (3)
Siswa kelas 6 MI, sudah dianggap dewasa bagi sebagian warga, termasuk warga desa tempat tinggal Suami, Lamongan. Saat itu juga, siswa-siswi diperbolehkan untuk mengadakan kegiatan kemping. Antusiasme para siswa diarahkan oleh guru untuk membantu membangun tenda. Bukan tenda yg mewah, hanya tenda darurat. Persis seperti tenda pleton.
Suami kebagian tugas untuk mengambil bambu sebgai penyangga tenda. Saat itu, pohon bambu banyak terdapat di pinggir sungai yang mengalir di perbatasan desa. Nggak jauh dari rumah suami.
Sehari setelah acara bantu-bantu mendirikan tenda, suami demam tinggi. Berhari-hari. Membuat suami gagal ikut kemping.
"Demam tinggi tapi di jam tertentu. Suka ngigau juga. Matanya juga merah. Ah, ada yg aneh, nih," pikir ayah saat itu.
Kemudian suami dibawa (lagi) menemui Pak Lik.
"Ngapain ikutin anak kecil gini? Pergi sana!"
"Saya suka sama anak ini"
"Tapi anak ini masih kecil. Nggak kuat. Kasian. Pergi sana!!"
Sedikit percakapan yang suami ingat saat itu. Percakapan antara Pak Lik dengan sosok perempuan yg ternyata mengikuti suami. Sebutan kerennya sekarang, mah 'ketempelan'.
Sejak saat itu, sosok-sosok tak kasat mata makin terlihat jelas oleh suami. Tetangga dan orang-orang di sekitar juga mengetahui bahwa suami bisa 'melihat'.
Oia, pekerjaan ayah saat itu adalah penjual dan penjagal sapi. Jadi setiap hari ada saja tamu yg main ke rumah. Mulai dari teman yg kemudian menjadi pelanggan, sampai pelanggan yg kemudian menjadi teman.
Suami yang saat itu masih polos, mengungkapkan apa saja yang dia lihat termasuk saat ada tamu yg datang. Makin tersebar luas berita tentang suami...
Berlanjut saat suami masuk pesantren...
Komentar
Posting Komentar