Fenomena Dosen Muda

Mengamati selama sekitar delapan tahun di dunia akademis, membuat Mei sadar akan satu fenomena baru. Fenomena dosen muda. Wajar aja, sih. Mahasiswanya juga sudah sepantaran Ais (adik Mei) yg kelahiran tahun 2003. 

Mei menyebutkan dosen muda karena tahun kelahiran mereka sama dengan Mei, tahun 1990-1995. Walaupun tetap ya, umur Mei masih 17 tahun. Mei tetap muda.

Lulus sarjana, mencoba melamar pekerjaan, tetapi yg didapat hanya penolakan dari perusahaan. Untuk mengisi waktu, lanjut sekolah. Megister. Dengan pemikiran bahwa tambahan gelar akademis akan memudahkan untuk dapat diterima di suatu perusahaan.

Bisa disebut juga, pelarian. Pelarian dari omongan julid orang-orang, "kok sarjana belum kerja?". Pelarian dari pertanyaan orang-orang "kapan nikah?". Pelarian dari mantan pacar yg menikah duluan (ini pengalaman suami. Kuliah megister karena ditinggal gebetannya nikah. Wkwk. Lucunya lagi, mantan pacar suami juga ngelakuin ini saat suami nikah. Wkwkwk). Atau pelarian yg lainnya.

Setelah lulus, mencoba melamar pekerjaan lagi, tetapi pekerjaan yg cocok dengan latar belakang pendidikan megister, sebagian besar adalah dosen.

Ingat, ini oknum, ya. Walaupun sebagian besar orang yg Mei dan suami kenal, iya. Wkwkwk. 

Nggak, nggak. Ini oknum. Hanya Mei, suami, dan beberapa teman suami yg mempunyai pengalaman yg sama dan pemikiran sama akan hal ini. Oleh karena itu, ini bersifat subjektif. 

Dengan status baru lulus dan latar pendidikan megister, membuat idealisme masih tinggi. Kemudian terjun ke dunia akademis. Nggak ada masalah, kok. Toh, selama dua tahun mereka juga ada di bidang akademis walaupun sebagai mahasiswa.

Permasalah di sini muncul saat tugas diberikan. Keegoisan dan idealisme tinggi membuat anti-kritik dan anti-saran dari para senior dosen atau senior tendik yg lain. Walaupun secara latar belakang pendidikan mereka lebih tinggi dibanding senior tendik, tetapi mereka tetap kalah di bidang pengalaman. Terlepas dari status PNS atau honorer.

Banyak orang yg bilang kalau pengalaman adalah guru terbaik, baik pengalaman diri sendiri atau pun orang lain. Para dosen muda ini tidak peduli akan hal itu.

Akhirnya, tugas yg diberikan tidak memberikan hasil yg memuaskan. Bahkan, ada juga yg enggak mengerti bagaimana cara mengerjakan tugasnya. Ya udah, dengan terpaksa, tugasnya ulang dari awal.

Senior yg latar pendidikannya lebih rendah tapi pengalamannya lebih banyak, cuma bisa bilang, 

"kan..."

Ucapan khas emak-emak yg bilangin ke anaknya tetapi anaknya dableg. Wkwkwk.


***

Enggak terima komentar, "lebih baik pelariannya ke pendidikan bukan ke club atau narkoba"

Bukan gitu konsepnya, Bambang!

Komentar

Postingan Populer