Kisah Nyata: Pengalaman Suami dengan Dunia Lain (10)


Salah satu kelebihan mondok di dekat rumah yaitu bisa pulang saat rindu rumah. Tetapi tetap harus ada persetujuan dari pengurus dan juga orang rumah. Rumah di Lamongan, pondok pesantren di Tuban pinggiran. Jarak tempuh dalam hitungan waktu, hanya sekitar 10 menit lah.

Ketika itu, suami libur tiga hari. Kata ayah, nanti Pak Lik N yg jemput. Suami menunggu kedatangan Pak Lik N yg belum datang juga. Hingga menunjukkan pukul 10.00 malam. 

"Kita ambil sapi dulu, ya,"

Ayah saat itu pedagang sapi cukup sukses. Dua ekor sapi dibeli-dipotong-dijual dalam sehari. Hal ini membuat area cakupan ayah meliputi Lamongan, Bojonegoro, Jombang, Tuban dan sekitarnya. Saat itu mereka mengarah ke Tuban.

Menggunakan mobil pick up, mereka berangkat. Suami, Pak Lik N yg sekaligus sopir dan seorang kenek.

Desa terletak agak jauh dari jalan besar. Dari jalan utama, harus berbelok melewati jalan besar, yg terdapat dua jalur. Dari sana, harus berbelok lagi, melewati jalan kecil, hanya ada satu jalur sehingga hanya cukup untuk satu mobil.

Di jalan itu, tidak ada penerangan. Satu-satunya penerangan adalah lampu mobil. Kanan kiri sawah. Gelap. 

Beberapa meter berjalan, lampu mobil menerangi sesuatu. 

Rombong pengantar jenazah. Lengkap dengan keranda yg dipanggul.

"La Illaha Illallah, La Illaha Illallah, La Illaha Illallah," 

Kalimat berulang yg terdengar mereka. 

Keadaan jalan yg sempit, membuat mereka tidak bisa mendahului rombongan itu. 

Awalnya, merasa biasa aja, nggak ada yg aneh. Tiba-tiba mereka menyadari sesuatu.

"Jam berapa sekarang? Kok ada yg mau makamin di jam malam begini?"

Jam memang sudah menunjukkan pukul 11.00 malam.

"Kok arahnya malah ke desa ya? Bukan ke pemakaman?"

Biasanya, arah pemakaman dengan desa itu berbeda.

Pak Lik N memberhentikan mobilnya, turun untuk memastikan sesuatu. 

Telinga Pak Lik N ditempelkan ke tanah. Bukan untuk mendengar sesuatu melainkan untuk melihat apakah ada rombongan itu ada kakinya atau nggak.

"Nggak ada kakinya, melayang," Pak Lik N memberikan laporan.

Seketika mereka merinding. Ketakutan. Tapi nggak bisa lari. Nggak ada orang yg bisa menolong. 

Menurut orang-orang, jika menemui rombongan seperti itu juga dilarang untuk mendahului. Jadilah mereka hanya bisa mengikuti rombongan pengantar jenazah itu dari belakang. 

Hingga akhirnya, rombongan itu berbelok dan menghilang. Tanpa aba-aba sang sopir tancap gas.

"Oh, itu. Biasa itu di sini," aku seorang warga desa yg sapinya dibeli ayah.

Bersambung....

Komentar

Postingan Populer