Kisah Nyata: Pengalaman Suami dengan Dunia Lain (14)
Kepala desa merupakan jabatan bergengsi di Lamongan. Sehingga banyak orang yg menginginkan posisi itu. Termasuk Pak Bejo dan Pak Jarwo. Pak Bejo dan Pak Jarwo menjadi rival dalam tiga kali pemilihan kepala desa. Namun, tiga kali juga kepala desa dijabat oleh Pak Bejo.
Aturan pemerintah bahwa seseorang tidak boleh menjabat sebagai kepala desa tiga kali berturut-turut, membuat Pak Bejo ingin melakukan regenerasi. Anak Pak Bejo, Mas Hari diusulkan untuk menggantikan Pak Bejo sebagai kepala desa.
Pak Jarwo dan Mas Hari menjadi calon kepala desa. Pemilihan berdasarkan pungutan suara.
Malam sebelum pungutan suara adalah malam yg panjang bagi suami dan juga Pak Lik N.
"Loh, Cak. Tumben ke sini? Ada apa?" tanya suami kepada Cak S yg saat itu menjemput suami di pesantren.
"Iya, pengantin (calon kepala desa) malam ini maunya ditemenin sama kamu."
Suami diantar ke rumah di mana ada Mas Hari. Di sana ternyata sudah banyak orang. Ayah juga ada.
"Malam ini jadi malam pertarungan. Siapa yg menang malam ini bakal menang di pemilihan kades besok," pesan Pak Lik N yg nggak bisa datang ke lokasi.
Pak Lik N membantu dari jauh. Dan untuk kesekian kali, suami jadi asduk.
"Misbakh, taburin garam ke seluruh desa. Taburin juga ke sungai samping rumah,"
Tugas asduk, sebarin garam. Wkwkwk.
Menurut pengelihatan suami saat itu. Seluruh desa dipagari gaib oleh Pak Lik N. Enggak berapa lama, buanyak (saking banyaknya) sosok berbagai bentuk menyerang desa itu, khususnya rumah di mana ada Mas Hari.
Sosoknya lengkap. Kunti? Ada. Genderuwo? Ada. Siluman ular? Ada. Mati satu sosok, datang lagi sosok yg lain. Enggak selesai-selesai, enggak habis-habis. Usut punya usut, dukun yg dipakai oleh Pak Jarwo untuk malam itu sekitar sepuluh.
Dua lawan sepuluh. Kalah jumlah. Ya, bikin gempor juga.
Hingga menjelang subuh, tiba-tiba datang sosok wanita, menyerupai ibu Mas Hari yg sudah meninggal.
Tanpa bicara apa-apa. Ekspresi wajah datar. Sosok itu hanya mengelus perutnya.
"Udah. Nggak usah diterusin." Tiba-tiba Pak Lik N memberikan komando.
Sosok itu seakan-akan berbicara
"udah ya, har. Jangan diterusin. Kalau diterusin nanti nasib kamu bisa kayak ibu,"
Dan ternyata, ibu Mas Har meninggal karena disantet. Jangan dendam. Karena sudah takdirnya seperti itu.
Bersambung....
Komentar
Posting Komentar